Showing posts with label Kimia XII. Show all posts
Showing posts with label Kimia XII. Show all posts

Sunday, 16 June 2013

Benzene



Kekulé in 1865 introduced the structure of benzene who has a molecular formula C6H6. Six atom carbon on benzene arrayed and circularly forming hexagon irregular with bond angle of respective-respective 120 degrees. Bond between the carbon is double bonds two and a single bond who criss seling, like the shown in following picture.


Source of picture: from here
1. The nature of Benzene
Physical properties benzene as follows.
a. Benzene is a compound that does not colorless and have a odor which distinctive.
b. Benzene intangibles liquid at a temperature of chamber (27 0C).
c. Boiling point benzene is 80.10 0C, whereas melting point benzene is -5.5 0C.
d. Benzene not can soluble in water but soluble in the solvent nonpolar.
e. Benzene is a liquid who easy evaporate.
Chemical properties benzene as follows.
a. Benzene constitute a flammable liquid, are carcinogenic, and nonpolar.
b. Benzene more easily experiencing reaction to substitution rather than adduct.
c. Benzene can undergo reactions halogenation. Benzene can be react with halogen with catalyst iron (III) chloride form the halide benzene and acid chloride. Example:


d. Benzene can undergo reactions sulfonation. Benzene reacts with sulfuric acid forming acid benzene sulphonate, and water. Example:


e. Benzene can experiencing the nitration reaction. Benzene reacts with nitric acid generating nitrobenzene and water. Example:


f. Benzene can experiencing alkylation reaction. Benzene reacts with alkyl halide forming alkyl benzene and acid chloride. Example:


2. Usability Benzene and their Derivation
Usability benzene which is main is the as solvent and the as the raw material manufacture of compounds-compounds other aromatic which constitute derivative compound benzene. Here this some derivative compound benzene and its usefulness.
a. Toluene
Toluene is used as solvent and as the base material for make TNT (trinitro toluene) namely compounds that used as an explosive (dynamite).
b. Styrene
Styrene is used as the base material manufacture of synthetic polymer polystyrene through process polymerization. Polystyrene a lot used to make insulator electricity, doll, insoles shoe, plates, and cups.
c. Aniline
Aniline is the basic ingredient for the manufacture of substances-substances color of diazo. Aniline can be be changed become salt diazonium with the help of nitrous acid and acid chloride. Salt diazonium hereinafter converted into a variety sorts of substances colors, such as Red # 2 who used as dye wool and silk.
d. Benzal dehida
Benzal dehida is used as an astringent preservative as well as of raw materials the manufacture of perfume because has a odor which distinctive. Benzal dehida can be to condense in with acetals dehida so as generate cinnamaldehyde (oil cinnamon).
e. Phenol
Phenol who known as carbolic or lisol function as substance disinfectant.
f. Acid Benzoate and their Derivation
Some derivative from acid benzoic who often dgunakan as follows.
1) Acid acetyl salicylic or better known with designations aspirin or asetosal who ordinary used as a drug relievers a sense of pain (analgesic) and-lowering heat (antipyretic). By because it was aspirin also used as a headache remedy, ache dental, fever and sick cardiac. The use of in the long term may lead to irritation lining mucosal on gastric so that give rise to sick mag, kidney disorders, allergies, and asthma.
2) Sodium benzoate which is ordinary used as a preservative food in cans.
3) Methyl salicylate constitute major component liniment or wind oil.
4) Acid terephthalate constitute fiber materials synthetic polyester.
5) Paracetamol (acetaminophen) has the function which same with the aspirin but more safer for gastric. Use of paracetamol which Excessive can cause interference kidney and liver.

Friday, 17 May 2013

Redoks dan Elektrokimia



A. Reaksi Redoks
      Reaksi redoks adalah reaksi serah terima elektron yang disertai perubahan bilangan oksidasi atom-atom yang terlibat dalam reaksi. Reaksi redoks mengandung peristiwa reduksi dan oksidasi. Perbedaan reaksi reduksi dan oksidasi sebagai berikut.
No.
Reaksi Reduksi
Reaksi Oksidasi
1.
Reaksi pelepasan oksigen
Reaksi pengikatan oksigen
2.
Reaksi penangkapan elektron
Reaksi pelepasan elektron
3.
Reaksi yang mengalami penurunan bilangan oksidasi
Reaksi yang mengalami kenaikan bilangan oksidasi
4.
Bertindak sebagai oksidator (tereduksi atau pengoksidasi atau mengoksidasi)
Bertindak sebagai reduktor (teroksidasi atau pereduksi atau mereduksi)
Reaksi autoredoks atau disproporsionasi adalah reaksi redoks tetapi hanya satu spesi yang mengalami reduksi dan oksidasi.
Reaksi koproporsionasi adalah reaksi redoks tetapi reaksi reduksi maupun oksidasi menghasilkan spesi yang sama.
Mol electron merupakan selisih bilangan oksidasi.
B. Penentuan Bilangan Oksidasi
Ketentuan bilangan oksidasi sebagai berikut.
1.  Bilangan oksidasi setiap atom dalam unsur bebas adalah nol.
2.   Bilangan oksidasi atom logam pada suatu senyawa atau ion sesuai dengan letak golongan pada sistem periodic unsure dan selalu bertanda positif. Bilangan oksidasi maksimal sam dengan nomor golongan, sedangkan bilangan oksidasi minimal sama dengan nomor golongan dikurangi 8.
3.   Bilangan oksidasi ion suatu atom sama dengan muatan ion tersebut.
4.   Bilangan oksidasi H dalam senyawa yaitu +1, kecuali pada senyawa hidrida (NaH, LiH, CaH2, dan AlH3) bilangan oksidasi H yaitu -1.
5.   Bilangan oksidasi atom O dalam senyawa yaitu -2, kecuali pada senyawa peroksida (H2O2 dan BaO2) bilangan oksidasi O yaitu -1, senyawa superoksida (KO2 dan RbO2)  bilangan oksidasi O yaitu -1/2, dan senyawa OF2 yang mempunyai bilangan oksidasi O yaitu +2.
6.   Jumlah total bilangan oksidasi atom-atom dalam suatu senyawa nol.
7.   Jumlah total bilangan oksidasi atom-atom dalam suatu ion poliatom sama dengan muatan ion tersebut.
8.   Jika dua atom berikatan, bilangan oksidasi negatif selalu dimiliki atom yang keelektronegatifannya lebih besar.
 9.  Unsur yang melepas elektron mempunyai bilangan oksidasi positif dan unsurr yang mengikat elektron mempunyai bilangan oksidasi negatif.
C. Penyetaraan Reaksi Redoks
      Penyetaraan reaksi redoks dapat dilakukan dengan dua cara sebagai berikut.
1.      Metode setengah reaksi atau ion elektron
Caranya sebagai berikut.
a.       Memisahkan reaksi menjadi dua persamaan reaksi yaitu reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Reaksi ditulis dalam bentuk ion yang mengalami perubahan bilangan oksidasi saja.
b.      Menyetarakan O maupun H. Jika reaksi berlangsung dalam suasana asam maka caranya dengan menyetarakan jumlah muatan yaitu dengan menambahkan elektron seruas dengan H+ untuk masing-masing setengah reaksi redoks sehingga muatan di ruas kiri dan ruas kanan setara. Jika reaksi berlangsung dalam suasana basa maka muatan dapat disamakan dengan menambahkan elektron pada masing-masing setengah reaksi redoks sehingga muatan di ruas kiri dan kanan setara. Selain itu dapat pula dilakukan seperti penyetaraan dalam suasana asam. Namun, H+  diganti OH- dengan cara menambahkan OH- pada kedua ruas sebanyak H+. Selanjutnya, menggabungkan H+ dan OH- menjadi H2O dan mengurangi kelebihan H2O. Jumlah muatan untuk masing-masing setengah reaksi redoks disetarakan dengan menambahkan elektron sehingga muatan pada ruas kiri dan kanan setara.
c.       Menyetarakan jumlah elektron pada kedua persamaan setengah reaksi. Jumlah elektron merupakan kelipatan terkecil dari elektron di kiri dan kanan tanda reaksi.
d.      Menjumlahkan kedua persamaan setengah reaksi.
2.      Metode bilangan oksidasi
Caranya dengan menyamakan jumlah elektron yang dilepaskan oleh oksidator dan elektron yang diikat oleh reduktor. Prinsip metode ini dengan menyilangkan. Perubahan bilangan oksidasi pada reaksi reduksi digunakan sebagai koefisien reaktan yang mengalami oksidasi. Perubahan bilangan oksidasi pada reaksi oksidasi digunakan sebagai koefisien reaktan yang mengalami reduksi. Reaksi kemudian diselesaikan dengan prinsip suasana asam dan basa.
D. Deret Volta dan Potensial Reduksinya
Reduktor yang bersifat kuat artinya mudah melepaskan elektron, sedangkan reduktor lemah bersifat sulit melepaskan elektron. Urutan logam-logam berdasarkan sifat reduktor dari terkuat hingga terlemah dinamakan Deret Volta. Urutan deret Volta sebagai berikut.
K – Ba – Ca – Na – Mg – Al – Mn – (H2O) – Zn  - Cr – Fe – Cd – Co – Ni – Sn – Pb – (H) – Cu – Hg – Ag – Pt – Au
Dalam deret Volta tersebut semakin ke kiri letak logamnya maka semakin kuat sifat reduktornya. Suatu logam mampu mereduksi ion-ion di kanannya tetapi tidak mampu mereduksi ion-ion di kirinya.
Potensial reduksi (Eo) adalah potensial listrik yang ditimbulkan apabila suatu ion logam menangkap elektron menjadi logamny. Semakin mudah ion logam mengalami reduksi maka semakin besar Eo yang ditimbulkan. Dalam deret Volta, semakin ke kiri maka harga Eo semakin kecil. Sebaliknya, semakin ke kanan maka harga Eo semakin besar. Standar yang digunakan adalah hidrogrn yang mempunyai harga Eo = 0,00 volt. Logam-logam di kiri H mempunyai Eo negatif. Sementara itu, logam-logam di kanan H mempunyai Eo positif.
E. Sel Elektrokimia
Sel elektrokimia adalah sel-sel yang terjadi perubahan energi listrik menjadi energi kimia atau sebaliknya. Dalam sel elektrokimia, reaksi redoks berlangsung pada bagian sel yang disebut electrode. Elektrode meliputi anode dan katode. Anode adalah elektrode tempat terjadinya reaksi oksidasi. Katode adalah elektrode tempat terjadinya reaksi reduksi. Sel elektrode terdiri atas sel Volta dan sel elektrolisis. Sel Volta atau sel Galvani adalah sel yang mempunyai elektrode logam yang dicelupkan ke dalam larutan garamnya. Sel elektrolisis adalah sel elektrokimia yang juga menggunakan elektrode berupa katode, anode, dan larutan elektrolit. Perbedaan sel Volta dan sel elektrolisis sebagai berikut.
No.
Sel Volta
Sel elektrolisis
1.
Perubahan energi terjadi dari kimia menjadi listrik
Perubahan energi terjadi dari listrik menjadi kimia
2.
Anode (oksidasi) merupakan elektrode negatif
Anode (oksidasi) merupakan elektrode positif
3.
Katode (reduksi) merupakan elektrode positif
Katode (reduksi) merupakan elektrode negatif
4.
Contoh sel aki, batu baterai, dan sel bahan bakar
Contoh pemurnian logam, penyepuhan logam, dan penguraian air
Pada sel Volta, elektron mengalir dari anode ke katode. Notasi sel Volta sebagai berikut.
Anode │ion║ion│katode
Logam yang mempunyai Eo lebih kecil selalu merupakan anode (mengalami oksidasi), sedangkan logam yang mempunyai Eo lebih besar merupakan katode (mengalami reduksi). Potensial listrik yang dihasilkan sel Volta dihitung dengan cara berikut.
Eo sel = Eo besar – Eo kecil atau     Eo sel = Eo reduksi – Eo oksidasi
Reaksi-reaksi yang terjadi pada sel elektrolisis sebagai berikut.
1. Reaksi pada katode
      Reaksi pada katode merupakan reaksi reduksi terhadap kation. Reaksi pada katode memenuhi ketentuan sebagai berikut.
a. Ion-ion golongan IA, IIA, Al3+, dan Mn2+
      2H2O + 2e- → 2OH- + H2
b. Ion-ion logam yang lain
      Mn+ + ne → M
c. Ion H+ (asam)
      2H+ + 2e- → H2
d. Ion-ion golongan IA, IIA, Al3+, dan Mn2+ akan mengalami reaksi (b) jika yang dielektrolisis adalah leburan (cairan) elektrolit tanpa ada air.
2. Reaksi pada anode
      Reaksi pada anode merupakan reaksi oksidasi terhadap anion. Reaksi pada anode memenuhi ketentuan sebagai berikut.
a.       Ion-ion F-, Cl-, Br-, dan I-
      Jika elektrode anode terbuat dari logam Pt, Au, atau C (logam inert) maka ion negatif tersebut yang mengalami oksidasi.
      2X- → X2 + 2e-
b.   Ion-ion SO42-, NO3-, dan PO43-
      Jika elektrode anode terbuat dari logam Pt, Au, atau C (logam inert) dan ion negatif mengandung atom O (anion sisa asam oksi), seperti SO42-, NO3-, dan PO43- maka yang mengalami oksidasi adalah air (H2O).
      2H2O(l) → 4H+(aq) + O2(g) + 4e-
c.   Ion OH- (basa)
      4OH- → 2H2O + 4e- + O2
d.   Pada penyepuhan dan pemurnian logam, anode merupakan logam pelapis atau logam tidak murni atau logam aktif (selain logam Pt, Au, dan C) yang mengalami oksidasi menjadi ion yang larut.
      M → Mn+ + ne-
      Keterangan:
M   = logam
n    = jumlah muatan atau ion
F.   Korosi
      Korosi adalah proses terjadinya reaksi oksidasi suatu logam di udara bebas atau dengan zat di sekitarnya sehingga menghasilkan oksida logam atau logam karbonat. Korosi yang terjadi pada logam besi akan menghasilkan karat dengan rumus molekul Fe2O3.xH2O.
      Faktor-faktor yang memengaruhi korosi meliputi uap air atau air, oksigen, larutan elektrolit, permukaan logam yang tidak rata, kontak dengan logam lain yang kurang aktif, serta asam. Timbulnya korosi besi dapat dicegah dengan cara sebagai berikut.
1.   Perlindungan mekanis
      Perlindungan mekanis dilakukan dengan cara pengecatan, melumuri dengan oli, membalut dengan plastik, melapisi dengan seng atau timah, serta membuat paduan logam.
2.   Perlindungan elektrokimia
      Perlindungan elektrokimia dikenal dengan nama perlindungan katode (proteksi katodik) atau pengorbanan anode (anodeising). Caranya dengan menghubungkan logam dengan logam yang mempunyai Eo lebih kecil, seperti magnesium.    
G.  Hukum Faraday
      Bunyi hukum Faraday sebagai berikut.
1.   Hukum Faraday I
      “Jumlah zat yang dihasilkan pada elektrode sebanding dengan jumlah arus yang dialirkan pada zat tersebut”.
      Perumusannya sebagai berikut.

W = e x i x t
        96.500
W = e x F
F = mol elektron =  i x t     = coulomb
                              96.500     96.500